Jumat, 28 Maret 2014

Oleh : Ahmad Fakhruddin Fajrul Islam, M.Th.I*)
Tak terasa, tepat 4 tahun organisasi intra kampus yang bernama Unit Kegiatan Mahasiswa – Pengembangan Tahfidhul Qur’an selanjutnya disingkat menjadi UPTQ ini lahir menjadi keluarga baru Unit Kegiatan Mahasiswa di IAIN Sunan Ampel (22 Desember 2009). Kelahiran UPTQ adalah sebuah perjuangan suci demi mewadahi Huffadhul Qur’an yang berproses secara akademis di kampus islam. karena amanat dan tanggungjawab para hafidh al-qur’an tentu berbeda dengan
yang hanya memahaminya saja, perlu perjuangan dan tanggungjawab yang besar untuk senantiasa menjaga hafalan di mana pun berada termasuk di tengah-tengah kesibukan akademis maupun keorganisasian di ranah kampus.
Menjawab keresahan itu, kami ber-empat mencoba menghidupkan kegiatan khusus ke al-qur’an-an secara khusus yakni menjaga hafalan dan menghafal di kampus namun melalui wadah yang awalnya independen. para pendiri awal tersebut saya sendiri Ahmad Fakhruddin FI (saat itu semester 9 TH), Muthi’ah Hijriyati (semester 7 TH), Saifuddin Nur (semester 7 PAI), Zainuddin Bahri (semester 7 PAI), kami yang pada saat itu sedang aktif menjabat di berbagai organisasi baik intra maupun ekstra mendapat amanat langsung dari Rektor IAIN Sunan Ampel saat itu Prof. DR. H. Nur Syam, M.Si karena beliau ingin kegiatan al-qur’an (yang bukan  merupakan seni) dihidupkan kembali setelah “kematian LTQ – Lembaga Tahfidhul Qur’an” pada tahun 2008. Akhirnya tanggal 05 Februari 2010 resmi menjadi Dies Natalis UPTQ dengan Surat keputusan Rektor nomor : In.02/1/PP.00.9/35 b/P/2010, UPTQ pun resmi lahir menjadi keluarga baru Unit Kegiatan Mahasiswa Intra Kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Bukan sebuah perjuangan yang mudah untuk menghidupkan kembali kegiatan al-qur’an yang terfokus pada skill murni dan spiritual murni dalam hal ini menghafal al-qur’an. Fenomena yang jamak terjadi, mahasiswa yang hafidh al-qur’an cenderung menjauhkan diri dari kegiatan keorganisasian maupun interaksi secara inklusif, karena mereka merasa bahwa tanggungjawab pribadi untuk menjaga hafalan al-qur’an adalah sangat berat bahkan ada yang merasa membebaninya. Hal tersebut tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori kesenian atau seni baca al-qur’an, karena menghafal dan menjaga hafalan bukanlah sebuah seni melainkan sebuah skill dan perjuangan diri yang membutuhkan fokus untuk melakukannya.
UPTQ sendiri tidak memfokuskan ke dalam seni baca al-qur’an karena UPTQ murni pada pengembangan keilmuan untuk membaca al-qur’an dan menghafal al-qur’an sesuai dengan metode yang benar. Hal inilah yang membedakan UPTQ dengan fokus kegiatan UKM lain dalam hal ini IQMA. Perbedaan fokus kegiatan inilah yang membedakan lingkup kegiatan UPTQ dan IQMA yang mempunyai cakupan kegiatan seperti seni baca al’quran tilawah, seni sholawat, seni MC, seni dakwah. pada saat awal berdirinya UPTQ pun kami sudah berkoordinasi dengan para pimpinan dan Pembina IQMA saat itu, ketua IQMA saat itu sdr. Mu’tashim Billah yang notabene sahabat saya, para pembinanya Ust. Ibnu Hajar Anshori, Ust. Badrut Tamam, Ust. Muhammad Amin. Kami bergandengan tangan saling mendukung kegiatan satu sama lain, bahkan salah seorang Ketua Harian IQMA periode 2010 mbak Limmatus Sauda’  ikut menjadi anggota dan pengurus UPTQ karena beliau ingin menghafalkan al-qur’an.
Jadi jika ada isu yang mengatakan kalau kehadiran UPTQ mengusik UKM lain itu tidak benar, karna dari sejarahnya pun tidak ada masalah itu dan kami saling mendukung satu sama lain, dengan fokus kegiatannya yangsangat berbeda. Saling menghormati dalam perbedaan dan persaudaraan UKM intra kampus adalah warisan yang telah kami berikan kepada kader-kader UPTQ hingga saat ini. Alhamdulillah sampai saat ini pun masih dijaga dengan baik oleh para kader pejuang penghafal Kalam Ilahi yang berada di UPTQ.
Tahun ini UPTQ memasuki periode kepengurusan ke lima setelah pada periode I saya sendiri sebagai ketua umum perdana pada 2010, periode kedua  2011 Ustdh. Muthi’ah Hijriyati, M.Th.I, periode ketiga 2012 Ust. Sabiq Izzuddin, S.HI, periode keempat Ustdh. Ma’rifatun Ni’mah, S.Hum dengan dibantu Plt. Ketua Umum sdr. Syukron Ali yang mengakhiri periode kepengurusan karena statuta organisasi yang mengharuskan Ketua Umum definitive non-aktif  karena lulus kuliah pada oktober 2013, dilanjutkan periode 2014 yang akan meneruskan estafet tanggungjawab yang dipimpin Sdr. Alfiyan. Alhamdulillah kewajiban dan syarat ketua umum yang harus sudah selesai hafalan al-qur’an 30 juz sangat terpenuhi dari setiap periode, karena hal tersebut menjadi utama selain amanat dari Pak Nur Syam saat itu menjadi rektor mewajibkan ketua umum uptq 30 juz bil ghoib juga demi menjaga kualitas organisasi. karena uptq lebih mengutamakn kualitas kader dibanding kuantitas kader, hanya mereka yang mau berjuang dan berkorban di jalan al-qur’an adalah yang disebut sebagai Keluarga Besar UPTQ UIN Sunan Ampel Surabaya.
Dengan perubahan status kampus yang menjadi UIN, kami para pendiri mengharapkan semangat kader semuanya dan sokongan maupun dukungan moril maupun materiil dari pihak kampus demi terwujudnya kampus yang mempunyai kegiatan khusus yakni menghafal al-qur’an dengan UPTQ sebagai punggawanya. begitu juga kami mengharapkan semua UKM intra mampu membawa semua kegiatannya agar membuat harum nama UIN Sunan Ampel Surabaya dengan beraneka ragam kegiatannya. Mari kita sebagai keluarga besar UKM Intra berpegangan tangan dan selalu menjaga soliditas masing-masing dan solidaritas antar UKM, maupun antar UKM dengan SEMA, DEMA baik di tingkat Universitas maupun fakultas.
Akhirnya Salam Qur’ani menjadi penutup  goresan lepas ini…UKM berdaya, UIN Berjaya…

 *(Pendiri UPTQ dan ketua umum UPTQ periode pertama UPTQ)

0 komentar:

Posting Komentar